Rabu, 13 Desember 2017

Simposium Nasional MPR RI

“Menghormati Keberagaman, Menjaga Persatuan dan Kesatuan Bangsa”

Senin, 11 Desember 2017
Gedung Nusantara IV, Komplek Gedung MPR DPR DPD RI.




Pagi dini hari ini tidak seperti biasanya, kesibukan sedikit berbeda, Mulai dengan menitipkan si Bayi yang baru 1.5 bulan ke Rumah neneknya, menyiapkan perlengkapan sekolah kakaknya, dan harus menukar mobil  juga ke rumah keponakan di Bekasi Kota, karena kebetulan hari ini tanggal ganjil jadi harus pakai mobil berplat ganjil.

Setelah semua selesai urusan tetek bengek, kami siap menuju Jakarta di hari Senin yang penuh dengan kemacetan apa lagi TOL Dalam Kota, ampun deh…. 

Menjelang Cawang untuk masuk Tol Dalam Kota jarak 500 Meter harus ditempuh dengan 45 menit.
Kalo kayak gini kayaknya gak jadi untuk beli Ferrari atau Lamborghini, tapi bukan karena macetnya tapi emang gak ada duitnya, lha terus apa hubunngannya dengan menulis macet..? gak tau saya juga.!

Kembali ke Jakarta “Aku Kan Kembaliiiiiii walaupun apa yang kan terjadi” lah ngawur lagi deh, mau nulis atau mo nyanyi sih..? serius dong..

Ok sekarang serius deh, hari ini saya harus menghadiri Undangan dari MPR RI, untuk mengikuti “Simposium Nasional” yang bertemakan tentang “Menghormati Keberagaman, Menjaga Persatuan dan Kesatuan Bangsa”



Banyak tokoh nasional yang akan berbicara sebagai nara sumber dalam acara tersebut, mulai dari Ketua MPR, Zulkifli Hasan, Mahmud MD, Sri Sultan Hamengku Buwono, Din Syamsudin,  Sujiwo Tejo, Sudhamek, Muji Sutrisno, dan lain-lain, namun memang pada kenyataannya banyak juga dari beberapa nara sumber tersebut tidak dapat menghadiri acara tersebut, entah karena ada kegiatan lain atau mungkin karena takut dengan Sistem Ganjil Genap dan Ngeper dengan macetnya tol dalam kota di hari senin, sepertinya para nara sumber yang tidak datang tidak tahu dengan petikan lagu dari Koes Plus yang saya tulis di atas.

Banyak nilai plus dari kedatangan kita menghadiri undangan tersebut, selain uang transport, tas merk Badan Pengkajian MPR RI, makan gratis, sertifikat (Hehehehe) tentunya ada yang paling penting untuk generasi zaman Now yaitu apalagi selain “FOTO SELFIE”. Ngomong2 nara sumber yang gak datang uang transport nya di ambil gak yah??? Atau  di transfer jauh jauh hari sebelum acara berlangsung, saya pengen tahu, tapi bingung mo nanya ke siapa?

Fokus ah focus focus…. Mana tulisannya..?
Baik, saya mo focus sekarang….

Bismilahirahmanirrahim….
Dari menghadiri acara tersebut ada beberapa rangkuman yang akan  saya tulis dalam blog ini, Bp. Mahmud MD berkata acara tersebut dibuat sebagai akibat dari semakin jauhnya masyarakat Indonesia dari menghormati keberagaman, padahal keberagaman masyrakat Indonesia ini harusnya merupakan asset bangsa untuk dapat mencapai cita cita bersama yaitu kesejahteraan bersama, sekarang ini beliau mempunyai keresahan tentang masyarakat kita yang terus-terusan ribut di beberapa media, khususnya media social begitu banyak sekali konten konten yang isinya hasutan kebencian.

Jika hal seperti ini dibiarkan bukan tidak mungkin suatu hari nanti, Indonesia akan perang saudara, permusuhan dengan alasan agama, suku, ras ini mulai mencuat setelah PILGUB DKI,  banyak sekali konten konten yang dapat memicu terpecah belahnya persatuan bangsa, dahulu masyarakat kita ini terkenal sopan dan santun, berbeda keyakinan, berbeda suku, berbeda ras bukan lah yang mengganggu persatuan bangsa, melainkan disitulah nilai kekayaan bangsa Indonesia.

Mbah Sujiwo Tejo saya memanggilnya, dalam acara ini beliau lebih menekankan akan saling menghormati keyakinan orang lain, karena agama/Tuhan itu urusan antara manusia dengan Yang Maha Kuasa, jadi janganlah kita ikut campur perihal hal tersebut, seolah-olah kita ini begitu dengan percaya diri bahwa kita ini orang suci lalu mewakili  mewakili Tuhan.

Mbah Sujiwo Tejo berorasi, saya tidak marah ketika orang lain mengatakan Tuhan saya itu anjing, saya tidak akan marah ketika orang lain menuduh tuhan saya itu babi, silahkan itu hak mu untuk bicara, saya pribadi belum dapat menafsirkan apa maksud dari pernyataan itu, mungkin karena keterbatasan ilmu yang saya punya.

Janganlah kalian ini jadi Sudra, banyak orang sekarang yg menjadi Sudra, Sudra, Sudra, Sudra, Sudra...!


Lalu Mbah Sujiwo Tejo juga membacakan puisi yang sempat viral itu  “Mari Tak Menghafal Pancasila” di lanjutkan dengan beberapa lagu berbahasa Jawa yang aku tidak mengerti artinya sepertinya berkaitan dengan hidup sederhana dan saling menghormati orang lain, hidup dalam toleransi, setidaknya konteks seniman banyak ditonjolkan dalam acara tersebut.

Guru besar Pasca Sarjana UI, Mudji Sutrisno berpendapat bahwa Keragaman suku, identitas budaya local religi yang aneka merupakan mata air daya hidup bangsa Indonesia, kemajemukan itu bahkan secara proses kebudayaan diberi kata kunci kebhinekaan dalam antagonismenya dengan keikaan. Indonesia yang secara politis menegaskan diri sebagai kami bangsa Indonesia pada 17-08-1945, secara kultural hanya akan terus ada dan eksis bila terus menenun keberagamannya sebagai bangsa menjadi Negara Republik Indonesia yang bersatu dan berdaulat seperti tertulis dalam mukadimah konstitusi 1945
.
Para pemikir sosialitas hidup bersama yang manusia dari religi memberi acuan sumber keunikan manusia dari tafsir kitab suci.Manusia adalah citra/gambar unik dari Allah. Yang pria citra agung yang perempuan citra ayu itu adalah pandangan kristiani, sementara pandangan Islam menegaskan bahwa manusia adalah Kahlifatullah Allah di dunia ini. Pokok renungan ini berpendapat bahwa perbedaan dan keunikan manusia merupakan jati dirinya. Lihat saja dalam unit kelompok yang paling dekat yaitu keluarga. Masing-masing anak itu unik dan perbedaan watak merupakan kenyataan hakiki, sehingga orang tua berusaha memahami dan memperlakukan mereka secara unik dan tidak meyeragamkan.



Kidung dan nyanyi alam mengisahkan warna-warni taman satwa mapun flora yang justru indah adalah karena beragam, jadi keberagaman itu harusanya memang memperindah bukan justru sebaliknya.

Jalan budaya berbincang dan berdebat dalam keragaman cara mengambil keputusannya ialah dengan mufakat. Para pendiri bangsa sudah bijaksana sekali mengelola disatu pihak kemajemukan tiap orang kita dan di lain pihak harus ada keputusan yang melegakan kebenaran bersama dari kebenaran masing-masing yang beda kepentingan. Mereka bijaksana karena “Inti Kebenaran” itu tidak bisa di voting. 

Alasannya, pertama, kebenaran utuh itu hanya satu yaitu Allah sebagai kebenaran ilahi. Sedang kebenaran-kebenaran insani itu parsial, terbatas relative dan beralpis-lapis. Alasan kedua, fakta bahwa tiap makhluk hidup/manusia mempunyai kepentingannya sendiri-sendiri mulai dari kepentingan informasi, pengetahuan dan petunjuk bahagia dal hidup (inilah Cognitive interest, religious interest). Tetapi politic interest dalam hal menguasai untuk memenangkan tujuan politisnya, maka voting selalu memuat luka bagi yang kalah. Politik kepentingan atau penguasaan ini hukumnya adalah menang atau kalah, untuk bisa menerima “KALAH” butuh belajar dari pendidikan. Jika kurang ilmu pendidikan maka menyebabkan  yg bersangkutan menjadi tak beretika, lalu menghalalkan segala cara hingga tega menyingkirkan sesama.



alasan ketiga, alasan sejarah proses dari bangsa menjadi Negara Republik Indonesia. Negara RI tidak akan ada tanpa pengakuan kemajemukan bangsa sebagai penyusunannya. Hebat sekali pemahaman para pendiri bangsa saat sadar dengan kemampuan logika brilian mereka, kenyataan fakta keragaman kita sebagai orang jawa, orang minang, orang batak, orang Flores, Orang Makasar, Bugis, Dayak, Ambon, Sunda, dll yg bermacam macam ini dapat menjadi satu dalam Indonesia.


Ketika jalan politik pada titik ekstrimnya sudah membuat sesama warga dipecah-belah sebagai kerumunan musuh atau lawan di kelompok ”mereka” dan sebagai kawan di kelompok ”kami”, maka jalan budaya menjadi renung jalan rekonsiliasinya apabila keragaman dijaga dan dihormati. Namun, jaman rezim penyeragaman ekstrim pun kita alami karena politik penyeragaman meniadakan kerjasama hingga Bhineka dilupakan. 

ada satu teori dari Samuel Huntington Clash Of Civilization : Pergaulan peradaban akan memicu konflik, seolah-olah segala permasalahan jalan keluarnya hanya melalui konflik. sebenarnya hal ini masih dapat ditanggulangi jika setiap individu masing-masing menghormati perbedaan. 

Jika saya amati, dari kejadian belakangan ini tidak hanya di Indonesia tapi beberapa negara luar negeri yg terlibat konflik, benang kusutnya adalah perihal keegoisan karena ingin mengejar sebuah tujuan yg memang belum tentu dapat diterima oleh orang lain.

Contoh Kasus perang Saudara di Yaman, Houti awalnya adalah sebuah organisasi kepemudaan yg berorientasi di bidang Pendidikan dan Kebudayaan, lalu sampai pada akhirnya kontra dengan pemerintah yg menaikan harga Minyak untuk Rakyat, lalu melakakan demonstrasi besar-besaran, menghimpun masa, memobilisasi masa untuk menjegal dan  menjatuhkan pemerintah. semakin hari pengikut Houti semakin besar, dan lihat apa yg terjadi sekarang ini..??

Houti bukan lagi organisasi kepemudaan yg berorientasi pendidikan tapi sudah lebih pas di sebut organisasi politik tingkat dunia, bukan lagi buku yg dibawa tapi senjata. Perang saudara pecah di Yaman, memporak porandakan tatanan kebangsaan, Rakyat yg jadi korban, bencana kelaparan sudah bertahun-tahun, itu lah hasil dari sebuah kebencian yg tidak menghormati keberagaman, khususnya perbedaan pendapat.

sebagai penutup:
Negara Timur Tengah sana, harusnya banyak belajar dari perdamaian di Indonesia.
Tapi Sayangnya....
Di Indonesia sendiri banyak segelintir orang yg sedang belajar menciptakan peperangan di Indonesia dari Timur Tengah Sana.

2 komentar:

Islam Jawa

ISLAM JAWA oleh : Gus Muwaffiq Ternyata, jaman dulu ada orang Belanda namanya Snouck Hurgronje. Dia ini hafal Alquran, Sahih Bukh...